Tanpa terasa sudah 1,5 tahun kita semua sebagai orang tua menemani anak-anak untuk dapat menyelenggarakan proses belajar mengajar secara jarak jauh karena pandemi covid 19. Dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini menimbulkan banyak polemik antara suka dan duka bagi banyak pihak, antara lain guru, orang tua, dan siswa. Mengapa demikian? Ini terjadi karena keputusan untuk dapat melaksanakan pembelajaran jarak jauh ini secara mendadak diputuskan oleh Kementerian Pendidikan karena merebaknya wabah covid-19, sedangkan sebelumnya pelaksanaan pembelajaran di Indonesia masih jauh dari pelaksanaan sistem belajar jarak jauh.
Hal ini diawali dari paradigma pelaksanaan proses pembelajaran jarak jauh yang diterapkan ketika masa pandemi covid 19. Terdapat tiga subjek utama dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh guru, orang tua, dan siswa itu sendiri. Paradigma ini adalah pandangan tugas atau posisi yang dapat diambil oleh masing-masing subjek dalam pelaksanaan program pembelajaran.
Tiga Subjek dalam Kegiatan pembelajaran tatap muka dan jarak jauh
Subjek pertama adalah guru. Dalam kegiatan pembelajaran tatap muka seperti biasa, guru memegang peranan penting. Hal ini karena guru masih memegang peran pusat kegiatan pembelajaran (teacher centered). Guru memiliki peran sebagai penuh sebagai pengajar, monitoring dan evaluator, serta juga sebagai motivator bagi siswa. Namun dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, peranan guru menjadi berubah yaitu guru tidak lagi menjadi ‘pusat’ dari kegiatan pembelajaran. Peran guru menjadi motivator dan monitoring dari kegiatan belajar siswa yang didampingi oleh orang tua.
Perubahan paradigma pendidikan dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh juga mempengaruhi peran siswa sebagai subjek kedua yang ada dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam kegiatan pembelajaran tatap muka, siswa didampingi penuh oleh guru sebagai pengajar. Siswa disajikan beragam materi yang dijelaskan secara jelas dan terperinci. Selain itu, siswa juga memiliki kesempatan untuk dapat berdiskusi secara langsung dengan guru.
Namun hal ini berbeda ketika pembelajaran jarak jauh diterapkan. Tuntutan kepada siswa dapat dikatakan mengalami pergeseran, yaitu kejujuran, kreatif dan inovatif, serta rasa ingin tahu yang tinggi untuk dapat mencari dan mengembangkan pembelajaran itu sendiri.
Subjek ketiga yang turut memberikan pengaruh pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di masa pandemi ini adalah orang tua. Jika sebelum masa pandemi orang tua hanya sebagai supporter atau motivator yang dapat membakar semangat siswa, kini peran orang tua telah beralih sepenuhnya menjadi pendamping kegiatan belajar mengajar di rumah. Peran ini awalnya menjadi salah satu masalah tersendiri mengingat kesiapan dan beban yang diampu oleh orang tua pada masa pandemi. Penyebaran virus, masalah ekonomi, dan ditambah dengan kegiatan pembelajaran jarak jauh menjadi beban bagi orang tua, sehingga kefokusan orang tua pun terbagi.
Problematika Pembelajaran Jarak Jauh
Pembelajaran jarak jauh yang diterapkan pemerintah pasca pandemi covid-19 tentu membawa permasalahan tersendiri. Permasalahan itu terdiri dari perangkat jaringan, perubahan metode pembelajaran, dan motivasi belajar.
Perangkat jaringan menjadi masalah utama yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Ini tentunya karena tidak semua dari lapisan masyarakat Indonesia memiliki ponsel pintar sebagai alat utama dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh. Selain itu, meskipun memiliki ponsel pintar, tapi tak semua dapat mengoperasikan aplikasi dengan baik sehingga menjadi kendala utama dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran jarak jauh.
Masalah yang kedua adalah metode pembelajaran. Disadari pembelajaran tatap muka akan berbeda jauh konsepnya dengan pembelajaran jarak jauh. Hal ini juga guru berinovasi untuk menghadirkan metode belajar yang sesuai dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh. Ini menjadi salah satu masalah karena selama ini guru belum begitu familiar dengan konsep pendidikan jarak jauh secara mendalam, apalagi untuk dapat dipraktikkan dalam kurun waktu yang cukup lama. Apalagi jika dalam pengerjaan tugas atau ujian, siswa merasa kesulitan karena layar ponsel yang tidak begitu besar.
Masalah yang terakhir adalah adalah motivasi. Tentu motivasi belajar termasuk salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh setiap siswa, tanpa adanya motivasi tentu siswa tidak dapat menjalankan kegiatan pembelajaran dengan baik. Pada pembelajaran masa pandemi ini, motivasi belajar siswa menjadi hal utama yang harus diperhatikan.
Dampak Positif dan Negatif Pembelajaran Jarak Jauh
Lekatnya siswa dengan ponsel, komputer/laptop, dan internet tentu saja membawa dampak tersendiri. Meski tiga perangkat itu tujuan awalnya digunakan sebagai sarana kegiatan pembelajaran, namun tentu saja siswa dapat menggunakan untuk hal lain yang bisa berdampak positif maupun negatif.
Berikut ini adalah ulasan tentang dampak positif maupun negatif dari pembelajaran jarak jauh, yaitu :
Dampak positif
Pengembangan karakter anak, terutama kompetensi karya sehari-hari.
Kreatif dan uptodate dalam penggunaan produk elektronik.
Portal pendidikan berkembang dengan pesat.
Orang tua dapat mengenal lebih jauh tentang kepribadian anak, baik itu cara belajar, apa yang anak butuhkan, atau kemampuan yang dimiliki oleh anak itu sendiri.
Dampak negatif
Siswa mudah terkontaminasi dengan penyalahgunaan internet.
Motivasi siswa yang tidak terkontrol karena merasa jenuh dengan pembelajaran jarak jauh.
Pembelajaran Tatap Muka VS Pembelajaran Jarak Jauh
Wacana Menteri Pendidikan Nadiem Makarim untuk membuka kembali pembelajaran tatap muka tentu saja menuai pro kontra. Sebagian masyarakat menyayangkan hal itu karena masa pandemi Covid-19 tentu belum berakhir. Dalam beberapa bulan terakhir, kasus covid-19 ini mengalami naik turun, sehingga orang tua merasa belum nyaman jika melepas anak untuk melakukan pembelajaran tatap muka.
Namun disisi lain, banyak juga orang tua yang memberikan dukungan karena merasa siswa telah bosan dengan kegiatan pembelajaran jarak jauh. Selain itu, pembelajaran tatap muka dianggap lebih efektif daripada pembelajaran jarak jauh.
Untuk dapat membuka pembelajaran tatap muka, Nadiem Makarim telah menuliskan beberapa point penting yang harus menjadi perhatian baik itu pihak sekolah maupun orang tua, salah satunya pembelajaran tatap muka yang dilakukan tetap dengan mengkombinasikan dengan pembelajaran jarak jauh.
 |
PTM vs PJJ
|
Paket Belajar Online Faber Castell untuk PTM dan PJJ
 |
Paket Belajar Online Faber Castell
|
Siapa yang terkadang merasa kesulitan dalam menggunakan ponsel dalam kegiatan belajar? Ribet banget ketika harus mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru, harus cetak dulu, ditulis kemudian baru difoto atau di-scan.
Nah, kini tak perlu ribet lagi karena ada paket belajar online dari Faber Castell yang isinya lengkap banget! Bisa untuk PJJ dengan ponsel pintarmu atau persiapan PTM ke sekolah.
Apa saja sih isinya? Paket Belajar Online dari Faber Castell ini berisi buku catatan, dan satu paket kotak pensil yang isinya bolpoin, pensil, penghapus, stylus pen, dan rautan pensil. Lengkap banget! Siap deh memulai PJJ atau PTM.
Produk terbaru dari Faber Castell adalah stylus pen. Stylus pen ini memudahkan kita untuk dapat menulis di layar ponsel pintar. Jadi tidak bingung lagi deh dengan jempol. Penggunaannya pun mudah, cukup dengan mengirimkan gambar tugas via aplikasi whatsapp dan langsung menulis di gambarnya. Ringkas dan cepat! Keunggulan lainnya dari stylus pen ini adalah mudah digunakan untuk tanda tangan,
 |
Stylus Pen dari paket belajar Faber Castell
|
Dan kabar baiknya, paket belajar online dari Faber Castell ini bisa didapatkan di toko buku terdekat atau marketplace kesayangan semua dengan harga yang cukup terjangkau, kurang lebih 30.000 saja!
Ayo lengkapi belajar putra-putri anda dengan paket belajar online faber castell. PTM atau PJJ? Tak masalah!